Rabu, 07 Januari 2009

PaDOS dAMELAN


PADOS DAMELAN, GOLEK KERJOAAN” artinya “cari pekerjaan”

+ ; Boss Pewawancara (interviewer)
- ; Pelamar Kerja (interview)


+ Pendidikanmu opo?
-Ekonomi Pak.
+ wah ora bisa ditompo ning kene.
-Alasanipun Pak?
+ Kakehan ngetung duwek tok mengko kerjanmu.
-tapi kulo mboten akuntansi, kulo manajemen.
+ Tambah ora ketompo?
-Lho kok ngaten pak?
+Mengko gaweyanmu mung ngatur wong wae…..
+ Kowe nduwe omah opo ora?
-Dereng….
+ Wah kowe ora iso ketompo nang kene.
-Lho kok ngaten?
+Mengko kowe mesthi ngajukne utang nang perusahaan.
-Ah.. mboten kok, sakjanipun
tiyang sepuh kulo niku sampun sugih.
+Yo malah ora ketompo.
-Lho kok ngaten?
+ Mengko kowe kerjo mung nggo hiburan,
nongkrang nongkrong ae.
+ Kowe nduwe motor opo ora? -
-Mboten.
+ Ora ketompo. -
-Lho kok mboten ketompo?
+ Mengko kowe mesthi njaluk bantuan kredit. -
-Sakjanipun gadhah, ning tasih ten kampung,
gampil mangke kulo beto ngriki.
+ Wah malah ra ketompo….
-Lho kok ngoten?
+ Tempat parkire wis ra cukup.
+ Kowe wis lulus sarjana tenan?
-Sampun Pak….
+ Ora ketompo. Kene iki golek sing SMA ae, luwih manutan
lan ben mbayare murah.
-Sakjanipun kulo tasih badhe skripsi.
+ Malah ora ketompo…..
-Lho kados pundi to?
+ Mengko kowe kerjo mung ngetik skripsi, yen wis
lulus mesti golek kerjo neng perusahaan liyo.
+ Kowe seneng guyon opo ora?
-Mboten pak, kulo serius nek nyambut gawe.
+ Ra ketompo…..
-Waa… Kok ngoten?
+ Engko konco-koncomu lan anak buahmu podho stress.
-Sakjane nggih sekedhik-sekedhik seneng guyon.
+ Malah ora ketompo.
-Lho kok……
+ Engko kowe mung email-emailan sing lucu.
+ Kowe mau mrene numpak opo?
-Nitih mobil.
+ Kowe ora ketompo.
-Sebabipun?
+ Saiki BBM mundhak terus, mengko kowe njaluk mundhak bayar terus.
-Woo, kulo wau namung mbonceng, kok.
+Tambah ora ketompo. -
-Lho, lha kok?
+ Mengko mung gawene mbonceng mobil kantor.
Ngrusuhi!
+ Anakmu akeh opo sithik? -
-Kathah, Pak.
+ Kowe ora ketompo. -
-Sebabipun?
+ Nyambut gawemu ora jenjem, mung mikir gawe uanak terus.
-Lha wong namung anak adopsi, kok.
+ Tambah ora ketompo.
- Lho, lha kok?
+ Gawe anak bae aras2en, opo maneh nyambut gawe.
+ Kowe wis ngerti gaweyanmu durung?
-Dereng.
+ Kowe ora ketompo.
-Sebabipun?
+ Arep nyambut gawe kok ora ngerti gaweyane? -
-Oo, nek damelan niku mpun ngertos kok.
+ Tambah ora ketompo. -
-Lho, lha kok?
+ Kowe rak mung arep keminter, to?
+ Kowe ngerti kahanan kantor kene durung? -
-Dereng.
+ Kowe ora ketompo. -
-Sebabipun?
+ Arep nyambut gawe kok ora ngerti kantore? -
-Wah, nggih sekedhik2 mpun ngertos kok.
+ Tambah ora ketompo. -
-Lho, lha kok?
+ Mengko kowe senengane ngudhal-udhal wewadi kantor, to?
+ Kowe kerep loro?
-Mboten.
+ Kowe ora ketompo.
- Sebabipun?
+ Mesthi kerep mbolos, wong arang2 gering.
-Wah, sakjanipun nggih asring.
+ Tambah ora ketompo.
-Lho, lha kok?
+ Kantor iki ora nompo karyawan pileren.
+ Kowe biso main internet?
-mBoten.
+ Kowe ora ketompo.
-Sebabipun?
+ Perusahaan ora nompo sing buta internet.
- Wah, sakjanipun nggih saged.
+ Tambah ora ketompo.
-Lho, lha kok?
+ Mesthi ora bakal nyambut gawe, kakehan dolanan internet, to?
+ Kowe waras opo ora?
-Lha, kulo nggih waras to Pak.
+ Ra ketompo.
- Kenging nopo?
+Mengko kowe mesthi ora krasan neng kene.
-Niku rumiyin Pak, sakmeniko sampun
rodo edan.
+ Malah ra ketompo.
-Pripun to niki?
+ Mengko aku duwe saingan.
Kekekekekekekekekekekekekek..........

(susahe golek gawean)

SUMBER : milis temen….


Read more...

Mr. Bule... Minyak Yang Sedang Dikandung Diperut Bumi Tempat Kami Tinggal Blok Cepu, Jangan Dihabiskan Ya... Anak Cucu Kami Juga Pingin Menikmati...

Meskipun kami tinggal di daerah kaya minyak seperti Bojonegoro, khususnya Kecamatan Ngasem, tempat Sumur Banyu Urip, Jambaran dan Alas Tuo berada, namun penduduk di daerah kami tetap saja dibelit persoalan kemiskinan dan susahnya memenuhi kebutuhan hidup yang layak. Salah satu faktor indikasi penyebabnya, perusahaan pengelola Blok Cepu tidak banyak melibatkan masyarakat setempat sebagai tenaga kerja. Belum lagi pembagian kerja pemerintah dan perusahaan pengelola yang membuat warga hanya kebagian debu semata. Kami butuh perubahan, yang ditimbulkan oleh minyak yang sedang dikandung diperut bumi tempat kami tinggal dan beranak pinak.

Kehadiran aktivitas pengeboran di Sumur Banyu Urip, Jambaran dan Alas Tuo oleh operator Blok Cepu di bawah kerjasama BP. Migas di Exxonmobil itu sama sekali tidak mengubah nasib kami. Dari dulu nasib kami yang tetap saja seperti ini, janji untuk melibatkan orang sini, tidak terjadi. Kalau toh ada lowongan, biasanya menyertakan syarat yang kecil kemungkinan dipenuhi oleh penduduk setempat.

Kabupaten Bojonegoro adalah sebuah kota kabupaten di perbatasan Jawa Tengah. Daerah seluas 230.706 Ha dengan dengan jumlah penduduk 1.3 juta jiwa itu dikenal sebagai daerah minyak. Sejak jaman penjajahan, aktivitas perminyakan terjadi di wilayah ini. Pertengahan tahun 1990, perusahaan eksplorasi yang dimotori oleh BUMN Pertamina mulai merambah minyak di Bojonegoro. Di era yang sama, perusahaan perminyakan asal China, PetroChina masuk ke wilyah ini untuk kegiatan yang sama. Pengelolaan blok Cepu sendiri awalnya dilakukan oleh PT. Humpuss Patragas dan akan menggarap selama 20 tahun, dari tahun 1990 hingga tahun 2010.

Blok Cepu adalah areal perminyakkan luasnya 1.670 km2 dan terdiri dari 4 wilayah yaitu Banyu Urip, Sukowati, Jambaran dan Alas Tuo. Pada tahun 1996, Humpuss melepas saham sebesar 49 % kepada Ampolex Cepu Ltd, perusahaan Australia. Di tahun yang sama Mobil Oil membeli saham itu dari Ampolex. Sekitar bulan Desember 1999, Exxon Corporation merger dengan Mobil Oil dan menjadi ExxonMobil, secara otomatis berhak atas Blok Cepu. Mobil Cepu Ltd, perusahaan di bawah Exxonmobil dibentuk untuk menjadi operator lapangan.

Berita tentang perminyakan di Bojonegoro kembali menanjak ketika Cepu Blok Ltd memulai aktivitasnya. “Tahun 2008 ini, Exxon dalam persiapan produksi, first oil diperkirakan akan keluar pada keluar akhir tahun ini,” kata Deva Rahman, Juru Bicara Exxonmobil pada The Post. Fokus pembangunannya ada di dekat Sumber Banyuurip dengan luas area sekitar 19 Ha.

Namun, hal itu tidak berarti apa-apa bagi kami para warga sekitar sumur pengeboran. Permintaan ijazah SMA atau yang sederajat sebagai syarat bekerja, menyulitkan penduduk setempat yang mayoritas hanya lulusan SD. Meskipun ada yang bersekolah hingga jejang perkuliahan, hampir pasti akan mengadu nasib ke kota. Sialnya, persoalan ijazah, diikuti dengan persoalan lain. Yakni prakter sogok menyogok. “Bukan rahasia, kerja di sini harus pake uang, apalagi kalau tidak punya ijazah. Bagi warga Ngasem yang menjadi petani, dalam setahun hanya bekerja selama 6 bulan. Terutama musim penghujan. “Musim kemarau benar-benar tidak ada air untuk tanaman.

Itupun juga masih harus berhadapan dengan kondisi alam yang tidak bersahabat sebagai efek turunan dari aktivitas pengeboran. Jalan Kecamatan Ngasem yang biasanya berbatu kapur, berubah diselimuti debu sejak truk-truk besar lalu lalang mengantarkan perangkat keras pengebora. Debu-debu yang beterbangan di khawasan itu menutupi apa saja, termasuk tanaman di sawah dan perkebunan. Begitu juga dengan halaman, tegas hingga perabotan rumah. “Setiap hari, kami para warga harus selalu menutup pintu rumah dan jendela, agar debu tidak masuk ke rumah debunya.

Kondisi di Ngasem, Bojonegoro juga diketahui oleh Suyoto, Bupati Bojonegoro. Tapi Suyoto mengaku tidak bisa berbuat banyak. Meskipun, berbagai regulasi menyangkut pelibatan warga setempat sebagai pekerja sudah dibuat. “Tenaga lokal, kecuali yang high skills dan expert, sebisa mungkin dipakai dalam proyek itu. Saya sudah mengontrolnya melalui laporan disnaker,” jelasnya. Namun, Suyoto mengakui masih sering ada pelanggaran. Pada pertengahan tahun 2008, Suyoto sempat menghentikan proses pengecoran karena tidak memakai tenaga kerja lokal. “Saya bilang, Kabupaten Bojonegoro fully support pertumbuhan eksplorasi, tapi make me more credible to my people,” katanya.

Ketegasan Suyoto harus berhadapan dengan regulasi perminyakan nasional yang sepenuhnya memposisikan Pemerintah Pusat di Jakarta. Meminjam istilah Suyoto, 10 meter di tanah adalah urusan, 100 meter di dalam tanah tanggungjawba gubernur. Sementara 100 meter ke bawah adalah urusan presiden. “Apa yang bisa saya lakukan, kecuali mengurusi permukaan tanah. Termasuk problem sosialnya,” kata Suyoto. Peran itu coba dimaksimalkan. Termasuk ketika ada keluhan persoalan debu jalan. Mobil Cepu Ltd, kata Suyoto menolak pengaspalan jalan dengan alasan gampang rusak. “Alasan itu yang tolak, lebih baik terus mengaspal jalan hingga menelan biaya ratusan juta rupiah, dari pada rakyat marah dan menutup jalan masuk ke lokasi sumber minyak dan membuat kerugian Rp. 40 juta USD/hari,” ungkapnya.

Direktur Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jawa Timur Bambang Catur Nusantara mencermati adanya problem pengairan yang mengancam Bojonegoro, menyusul ekplorasi dan eksploitasi di sana. Perlu ada sumber air yang melimpah untuk menginjeksi sumur-sumur migas di wilayah itu yang konon mencapai 35 titik. “Informasi yang masuk ke Walhi, ada delapan waduk gerak yang akan dibangun pemerintah di Bojonegoro, ini yang tidak pernah dijelaskan ke publik,” kata Catur pada The Post.

Juru Bicara Exxon Mobil Indonesia Deva Rahman mengaku kaget dengan berbagai berita yang menyebar di masyarakat menyangkut kondisi Bojonegoro. Apalagi menyangkut rencana pembangunan waduk.”Rencana dibangunnya waduk gerak itu malah belum saya dengar. Tapi, kalau sudah full fil-production, sudah ada water for the proses. Namun semua proses awalnya belum rampung,” katanya.

Namun Deva meyakinkan, kebutuhan air untuk proses perminyakan pasti meminta dahulu kepada pemerintah. Bila pemerintah setuju, proses itu baru dilakukan. “Exxon tidak mungkin mengambil air samapi menyebabkan kekeringan, karena itu kami melibatkan pemerintah,” katanya.

Begitu juga saat Mobil Cepu Ltd “menangani” urusan SDM yang digunakan dalam proyek itu. Pengembangan suplayer lokal, rekruitment SDM lokal untuk dijadikan pegawai dan investasi adalah tiga titik berat yang dilakukan. Tujuan program yang dikemas dalam Condev itu pada didasari pembangunan kapasitas manyarakat. “Karena kami menilai berdasarkan assaisment, tiga program itu yang harus dilakukan, bukan pembangunan fisik,” katanya. Seperti pelatihan bahasa Inggris penduduk setempat.

Itulah alasan Mobil Cepu Ltd tidak memenuhi permintaan masyarakat untuk memberikan bangunan fisik. “Itu domain pemerintah. Jalan misalnya, ada jalan yang kita perbaiki, juga ada yang tidak kita perbaiki. Juga sekolah. Kita melihat, ekspektasi masyarakat untuk kesejahteraan sangat tinggi, tetapi jalannya tidak bisa tiba-tiba,” katanya.( Masok Iyo...!!!)


Read more...

Selasa, 06 Januari 2009

Pemilu...Lagi-lagi Pemilu...!!!


Pemilu 2009

sudah diambang pintu...
intriks mulai terjadi
kemaksiatan politik mulai merebak
saling fitnah,saling sikut dan saling jilat…
semua mengumbar janji
tanpa bukti
proses pemilihan yang penuh kejahatan yang terang dan nyata
siapa yang beruang dia yang menang
tak ada uang dia ditendang
tak ada calon pemimpin yang sejati
tak ada caleg yang tak keji

semuanya berambisi
menghisap darah rakyat sendiri
bendera perang antar partai mulai dipasang dijalan-jalan
foto-foto dipajang dijalan dan dipohon dan ditiang
semua narsis ingin menang
inilah politik…kejam…
sayang ..rakyat tak pernah sadar
ditipu dan dipijak dan dihisap...
rakyat selalu menderita
dibohongi dan dikhianati
mana semboyan dari rakyat untuk rakyat..gombal.
dari rakyat untuk konglomerat
rakyat tetap melarat.
Bagaimana mau dapat pemimpin adil
memilihnya saja dengan cara yang kotor.
mana ada sesuautu yang bersih yang dipilih dengan cara yang kotor.
mencari pemimpin yang adil juga harus dengan cara yang adil..fair..bersih dan jujur.

ah jujur sudah menjadi kata tanpa makna
bersih sudah tidak ada lagi..semua sudah tercemar.
siapa yang salah…
semua salah
rakyat salah
terlalu bodoh dan naif
mau ditipu dan dibodohi terus-menerus
kapan rakyat kita pandai kalo terus dibodohi dan memang bodoh…
mulai sekarang jangan mau dibodohi lagi.
jangan mau…
Heboh… soal pemilu yang..semakin mahal..
semakin menghabiskan dana rakyat...
uang dan utang negara ditanggung rakyat...
mengapa mesti ribet banget pilih pemimpin…
mengapa perlu banyak keluar duit..untuk dihamburkan …
kenapa tidak simpel saja…
negara ini selalu menghamburkan dana untuk hal yang kurang perlu...
selalu menghabiskan uang untuk menyusahkan rakyat
bukannya memikirin sekolah gratis
rumah sakit gratis
pasilitas umum layak pake
angkutan murah kalo gak bisa gratis
yang penting juga internet gratis….
katanya kita negara kaya..
sopo seng kaya yo..konglomerat toh…
sudahlah…
kasian yang baca bisa puyeng…

Kekekekekekekekekekeke...

Read more...

Yuki Pas, Bukan Lirik Lagunya Aja Yang Pas & Sosial, Tapi Jiwanya Juga Pas Buanget & Sosial

BANDUNG - Vokalis band rock asal Bandung Yuki pas Band menolak rencana pemerintah yang akan menaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Hal tersebut diutarakan Yuki kepada Bandung News di sela-sela Jumpa Pers acara Malboro Rock 2008 di Lapangan Gasibu Bandung, Sabtu malam.

Yuki menilai, rencana pemerintah yang akan menaikan harga BBM dan menghapus subsidi BBM terhadap rakyat kecil sangatlah tidak tepat. Dia menilai, masih banyak alternative lain agar subsisi BBM bagi rakyat kecil tidak dihapus oleh pemerintah. ujar pelantun lagu "Kesepian Kita".

“Pada intinya, saya menolak rencana pemerintah yang akan menaikkan harga BBM, namun apa boleh buat, ini sudah keputusan akhir pemerintah,“ ujar pelantun lagu Kesepian Kita.

Selain itu, dia menilai kalau posisi pemerintah saat ini, di tengah hirup-pikuk isu kenaikan BBM bagaikan makan buah simalakama atau “maju kena mundur kena”.

Read more...

Sabtu, 20 Desember 2008

Sejarah Industri Minyak di Bojonegoro


Ladang Minyak dan Perusahaan Minyak di Bojonegoro

Keberadaan ladang minyak di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur berawal dari ditemukannya sumur minyak oleh Adrian Stoop, seorang sarjana pertambangan lulusan Sekolah Tinggi Tekhnik Delft Belanda pada tahun 1893 di Ledok, Desa Wonocolo Kec. Kasiman Kab. Bojonegoro yang berbatasan dengan Cepu, Jawa Tengah. Pada tahun yang sama, Adrian membangun kilang minyak di Cepu, daerah Ledok itu berada. Untuk memperkuat kilang minyaknya tersebut, Adrian Stoop mendirikan perusahaan bernama Dordtsche Petroleum Maatschappij (DPM) yang namanya diambil dari desa tempat kelahirannya. DPM adalah perusahaan asing pertama di Indonesia yang mengelola minyak dan sekaligus sebagai titik awal pertambangan minyak di tanah Jawa. Seiring perjalanan sejarah, DPM berubah menjadi Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM). Dan setelah kemerdekaan Indonesia, BPM berubah lagi menjadi PTMRI, Permigan, Pusdik Migas, PPTMGB Lemigas, PPT Migas, dan terakhir menjadi Pusat pendidikan dan latihan Minyak Bumi dan Gas (Pusdiklat Migas).5 Saat ini Pusdilkat Migas telah berubah menjadi satu-satunya lembaga pendidikan tentang minyak di Indonesia, yaitu Akademi Minyak dan Gas (AKAMIGAS). Perubahan drastis dari tambang migas yang pertama kali menghasilkan minyak di pulau Jawa menjadi AKAMIGAS dikarenakan menipisnya cadangan-cadangan minyak diladang minyak Cepu. Dengan menipisnya ladang minyak tersebut, mengakibatkan ongkos produksi lebih besar dibandingkan keuntungan yang diperoleh. Oleh karena itu, alat-alat berat yang dulu dipakai untuk eksploitasi minyak saat ini hanya digunakan sebagai alat peraga pendidikan di AKAMIGAS.

Pada tahun 1987, berdasarkan SK Menteri Pertambangan dan Energi No. 0177/K/1987 tanggal 5 Maret 1987, Wilayah Kuasa Pertambangan (WKP) seluas 973 km2 yang semula dikelola oleh PPT Migas diserahkan kepada Pertamina UEP III lapangan Cepu. Wilayah tersebut terletak di 4 kabupaten, yaitu Grobogan, Blora, Bojonegoro dan Tuban. Dua kabupaten terakhir berada di Jawa Timur. Melalui penyerahan WKP ini, sejumlah lapangan

minyak, yaitu Kawengan, Lapangan Ledok, Desa Wonocolo Kec. Kasiman Kab. Bojonegoro dan Nglobo/Semanggi yang terdiri dari 519 sumur minyak berpindah ke tangan Pertamina UEP III. Kebijakan pemerintah tersebut bersumber pada Undang – Undang No. 44 tahun 1960 jo UU No. 8 tahun 1971. Dalam UU tersebut ditetapkan bahwa kuasa pertambangan minyak dan gas di Indonesia diberikan kepada Pertamina sebagai satu-satunya BUMN yang mengelola Migas. Pertamina UEP III Cepu sendiri mengebor ladang minyak pertama kali pada tahun 1989 di Desa Jepon Kec. Randublatung Kab. Blora Jawa Tengah.

Santa Fee, Devon dan PetroChina di Bojonegoro

Masuknya Santa Fee Energy Resources (SFER) ke Tuban dan Bojonegoro berawal dari kerjasama dengan Pertamina dalam bentuk Job Operating Body (JOB) Pertamina – Santa Fe untuk mengelola ladang minyak di Desa Rahayu Kec. Soko Tuban. Awal masuknya proyek ini di desa Rahayu pada tahun 1993 ditandai dengan pembebasan tanah. Hasil pengamatan di lokasi mendapatkan data bahwa pada saat itu tanah warga dihargai Rp.

2.600/m2.8 proses seismik yang dilakukan untuk mengetahui titik sumur dan jumlah kandungan minyak dilakukan pada tahun 1994 hingga 1996. dan pada 1997, SFER sudah melakukan proses eksploitasi dan produksi. pada awal produksinya, SFER mengestimasikan mampu menghasilkan 3000 barrel/hari. Dan selanjutnya pada tahun 1998 akan mampu memproduksi 20.000 barrel/hari. Selain wilayah Tuban, SFER juga sudah memproduksi migas di wilayah Kepala Burung, Irian Jaya (tahun 1973) dan wilayah Tanjung Jabung (tahun 1997).9 Pada tahun 2000, kepemilikan hak eksploitasi SFER berpindah ke Devon Energy, perusahaan Amerika Serikat juga yang berpusat di Houston. Setelah di tangan Devon Energy, Devon Energy juga mengembangkan produksinya dengan menemukan sumur minyak baru di wilayah Bojonegoro tepatnya di desa Ngampel kecamatan Kapas. Namun Devon belum memproduksi minyak di wilayah Ngampel. Selain di Tuban dan Bojonegoro, Jawa Timur, Devon Energy juga mengelola enam blok di Sumatra (Jambi) dan Papua. Di Jambi, tepatnya di wilayah pantai timur Kabupaten Tanjung Jabung Timur, lapangan minyak Devon itu memiliki potensi jutaan barrel minyak,

Di Salawati Papua, setidaknya ada 10 sumur yang sudah berproduksi, namun kapasitasnya hanya sebesar 2.800 barrel per hari (bph). Jika aktivitas produksi berjalan normal maka ke sepuluh sumur tersebut mampu memproduksi sebanyak 11.000 bph. Pada akhir 2001, Devon sudah berencana menjual seluruh ladang minyaknya di Indonesia. Dan pada tanggal 15 April 2002, perusahaan minyak Cina, PetroChina mengakuisisi seluruh lapangan minyak milik Devon Energy senilai US$ 262 juta. Lokasi hak pengelolaan eksplorasi PetroChina terletak di 2 lokasi yaitu, Desa Rahayu Kec. Soko Tuban dan Desa Ngampel Kec. Kapas Kabupaten Tuban. Untuk lokasi di Desa Ngampel, proses seismik sudah dilakukan sejak tahun 2000 dan saat ini semua instalasi pengeboran sudah terpasang, tapi proses produksi belum dilakukan. Produksi PetroChina di Desa Rahayu saat ini kurang lebih 8.000 barrrel/hari (bph). Menurut salah satu sumber yang kami wawancara, jumlah segitu secara ekonomis tidak layak untuk produksi perhari, karena biaya operasional yang tinggi. Namun demikian bukan berarti bahwa kandungan yang ada di sumur Rahayu tersebut sudah mulai habis, melainkan dibutuhkannya ekplorasi lanjutan untuk mencari celah letak kantong-kantong minyak. Hal ini dilakukan karena pergerakan lapisan bebatuan bumi mengalami pergeseran, sehingga menyebabkan kantong minyak yang sebelumnya berada di suatu tempat berpindah ketempat lain. Kemungkinan kerugian akan menimpa PetroChina terbantahkan dengan adanya kabar bahwa PetroChina akan menggandeng Petronas Malaysia untuk memperbesar kuantitas produksi.

PT. Humpus Patragas dan Mobil Cepu Ltd.

Pengelolaan blok Cepu pada awalnya dilakukan oleh PT. Humpuss Patragas, milik Tomy Soeharto, dengan penandatangan Technical Assistance Contract (TAC) antara Pertamina, sebagai satu-satunya BUMN yang memiliki hak pengelolaan migas di Indonesia dengan Humpuss Patragas pada April 1990. kontrak ini berlangsung selama 20 tahun, dari tahun 1990 hingga tahun 2010. Blok Cepu ini luasnya 1.670 km2 dan terdiri dari 4 wilayah yaitu Banyu Urip, Sukowati, Jambaran dan Alas Tua. Keempat lokasi sumur ini berada di 2 Propinsi yaitu Cepu, Jawa Tengah dan Bojonegoro, Jawa Timur. Sampai 1998 tak kurang dari 15 sumur sudah dibor perusahaan milik Tommy Soeharto ini. Beberapa di antaranya, seperti sumur Nglobo Utara -1 dan Alas Dara -1, sudah menghasilkan minyak mentah.

Sebelumnya di tahun 1997, Humpuss Patragas melakukan pembebasan tanah besar-besaran untuk lokasi awal di Desa Mojodelik dan Desa Gayam, desa yang menjadi titik sentral sumur Banyu Urip dan Jambaran. Humpuss melepas sahamnya sebesar 49 % kepada Ampolex Cepu Ltd, perusahaan Australia, pada bulan Mei 1996. Tidak lama setelah hampir sebagian saham Humpuss dilepas ke Ampolex, pada Desember 1996 Mobil Oil membeli Ampolex. Dan pada pertengahan 1997, Mobil Oil mengambil alih saham-saham Ampolex Cepu Ltd seluruhnya. Pada Desember 1999, Exxon Corporation merger dengan Mobil Oil dan menjadi ExxonMobil Oil yang kantor pusatnya berada di Irving, Texas Amerika Serikat. Jadilah pada saat itu ExxonMobil Oil sebuah perusahaan minyak raksasa. Pada saat yang bersamaan, Mobil Oil sedang dalam proses mengambil alih saham Humpuss Patragas yang tersisa pada TAC Cepu. Pada 29 juni 2000, Mobil Cepu Ltd (MCL), anak perusahaan yang dibentuk ExxonMobil Oil untuk menjadi operator lapangan di blok Cepu, mengambil alih pengoperasian dan 51% sisa saham TAC Cepu dari Humpuss Patragas. Mulai saat itu, ExxonMobil Oil memiliki 100 % TAC blok Cepu. Tidak lama setelah pengakuisisian saham tersebut, pada tahun 2000 juga Exxon melakukan eksplorasi seismik di wilayah block Cepu. Proses seismik adalah proses untuk mengetahui/ memetakan titik sumur pengeboran dan produksi dan jumlah minyak yang terkandung di wilayah tertentu yang telah diketahui memiliki kandungan minyak mentah. Pada bulan April 2001, Exxon mengumumkan hasil penemuannya bahwa pada 2 sumur Banyu Urip #1 dan #3 terdapat kandungan minyak mentah sebesar 250 juta barrel. Bahkan menurut data lain disebutkan bahwa kandungan minyak di wilayah tersebut tidak hanya 250 juta barrel, tapi samapi angka 700 juta barrel hingga 1 milyar barrel. Lembaga Minyak dan Gas (LEMIGAS), sebuah lembaga studi yang menjadi bagian dari AKAMIGAS mengatakann bahwa Banyu Urip, Sukowati, Jambaran dan Alas Tua menyimpan kandungan minyak mentah sampai 1,4 miliar barrel. Selain minyak mentah, blok Cepu juga memiliki kandungan gas sebesar 8,772 triliun kaki kubik. Dari hasil studi Lemigas ini, pengelola ladang minyak Cepu dapat mengangkat minyak mentah minimal sebesar 31 % atau setara dengan 458,7 juta barrel. Sedangkan untuk gas, yang bisa diangkat sebesar 72 %.

Setelah mengetahui kandungan yang ada di Blok Cepu tersebut, Pada Januari 2002, Exxon mengajukan perpanjangan kontrak TACnya kepada Pertamina sampai tahun 2030. harus diketahui sebelumnya, bahwa hak kontrak yang telah dibeli Exxon dari Humpuss pada tahun 2000 akan habis pada 2010. Hingga saat ini, negosiasi perpanjangan kontrak ExxonMobil Oil – Pertamina hingga tahun 2030 masih berlarut larut. Para elit negara pengambil kebijakan berselisih pendapat mengenai pengelolaan ladang minyak Blok Cepu yang menjadi salah satu sumber pendapatan negara terbesar ini. Bila dibuat kronologi, proses negosiasi perpanjangan kontrak ini adalah:

2001

Exxon mengajukan perpanjangan kontrak pengelolaan ladang minyak Cepu yang akan berakhir pada tahun 2010 selama 20 tahun hingga 2030.

Juli 2002

Dewan Komisaris pemerintan untuk Pertamina (DKPP) yang dipimpin menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro menyetujui perpanjangan kontrak Cepu. Namun Kwik Kian Gie, salah satu anggota DKPP menyatakan penolakan perpanjangan kontrak dengan dengan Exxon Mobil Oil. Kwik meminta pertamina mengelola Cepu.

November 2002

Pertamina menyatakan tidak akan menggunakan kontrak bantuan Teknis (TAC) untuk mengelola Cepu.

April 2003

Pertamina dan ExxonMobil Oil mulai melakukan negosiasi berkaitan dengan permintaan perpanjangan kontrak. Pertamina meminta ExxonMobil memberikan dana bonus sebesar US$ 400 juta dalam bentuk kas jika ingin memperpanjang kontrak.

Juni 2003

Exxon Mobil mengirim surat kepada Presiden Megawati dengan mengatakan Pertamina mempersulit negosiasi.

September 2003

Pertamina meminta dilakukan uji tuntas atas investasi yang dilakukan Exxon Mobil sebesar US$ 495 juta dan biaya yang dikeluarkan pada tahun 2002 US$ 75 juta. Hasil audit BPKP atas biaya investasi Exxon Mobil hanya US$ 142 juta yang bisa dipertanggungjawabkan. Selebihnya tidak bisa dipertanggungjawabkan. Kedua perusahaan kembali melakukan negosiasi mengenai besaran investasi yang telahdikeluarkan.

Maret 2004

Pertamina menyatakan negosiasi dengan ExxonMobil selesai dan akan menggunakan Kontrak Kerja Sama (KKS) Khusus. Penandatanganan dilakukan setelah memperoleh persetujuan dari komisaris, pemegang saham, dan pemerintah. Kesepakatan yang dicapai, ExxonMobil akan mendapatkan bagian 50 persen dari bagian Pertamina sebesar 40 persen dalam pola bagi hasil dengan pemerintah. Hingga saat ini pemerintah belum memberikan persetujuan atas hasil negosiasi tersebut.


Read more...

Selasa, 16 Desember 2008

Habis Moral, Terbitlah Anarki

BERITA: Fata Atqia, Kontributor INILAH.COM

NILAH,COM, Jakarta – Ada pikiran menarik yang terlontar dari sejarawan Anhar Gonggong. Demokrasi Indonesia yang dibangun pada era reformasi ini, kata dia, ditengarai mengarah kepada kekacauan. Kekacauan itu disebabkan lunturnya etika kalangan elit politik di DPR maupun aparat pemerintah di sejumlah instansi.

Miskinnya etika dan moralitas itulah yang ditengarai Anhar menjadi sumber kasus-kasus memalukan, seperti penyuapan – baik dengan uang maupun perempuan – kepada jajaran penegak hukum di pengadilan, kepolisian dan kejaksaan, serta hampir semua lembaga kenegaraan lainnya.

Belum lagi korupsi yang – berdasarkan data terakhir – ternyata menunjukkan tidak ada satu provinsi pun di Indonesia yang luput dari perbuatan bejat dan melecehkan kepentingan rakyat banyak itu.

Melihat fenomena tersebut, muncul pertanyaan tidakkah usia kemerdekaan yang sudah 63 tahun itu masih belum mampu memperlihatkan jalan terbaik menuju kesejahteraan dan kehidupan bangsa yang tertata? Tentu sulit untuk menjawab pertanyaan ini. Namun yang jelas, tampaknya ada yang terlupakan sementara kita mengarungi kehidupan berbangsa dan bernegara ini, yaitu pendidikan.

Enam puluh tiga tahun bangsa kita merdeka, rasanya tidak juga membawa masyarakat lebih mudah memperoleh pendidikan yang baik dan murah. Lima tahun terakhir ini, bahkan dengan gampang kita melihat betapa banyak anak kaum miskin, termasuk mereka yang baru dalam usia sekolah dasar, bunuh diri karena persoalan biaya pendidikan. Niat luhur mereka untuk meneruskan sekolah terbentur beton kokoh mahalnya biaya pendidikan.

Tengoklah perguruan-perguruan tinggi kita. Saat ini mungkin hanya lembaga pendidikan kelas kambing yang masih terjangkau kalangan menengah bawah. Di luar itu, kita dibuat terhenyak oleh biaya kuliah yang mencapai puluhan, bahkan ratusan juta rupiah. Dengan biaya setinggi itu, wajar bila anak kaum miskin lulusan SMA yang paling cerdas pun, hanya bisa melihat kegelapan sebagai peluang dan masa depannya.

Terlalu gampang untuk menunjuk negara sebagai kambing hitam dari persoalan ini. Negara akan berkilah tentang terbatasnya anggaran yang dimiliki, dan karena itu seiring terbukanya dunia, pemerintah menyilakan semua perguruan tinggi berlomba.

Di tingkat pendidikan dasar dan menengah, negara pun tidak malu untuk terus menunda pelaksanaan anggaran 20% untuk dunia pendidikan. Sesuatu yang sebenarnya telah digariskan sebagai aturan legislatif sejak bertahun lalu.

Subsidi yang dikerat besar-besaran itu akhirnya memaksa perguruan tinggi menjelma jadi entitas bisnis. Sikap mereka pun kontan berubah: mengutamakan siapa pun yang mampu membayar. Mereka yang tidak mampu, silakan minggir dan tahu diri.

Inilah yang terjadi di negara kita. Padahal, dengan semakin sedikitnya warga yang tercerahkan pendidikan, peluang ke arah demokratisasi pun sebenarnya makin menjauh.

Persoalannya, demokrasi tidak hanya tergantung pada para pemimpin bangsa. Meski elit pimpinan didominasi para lulusan universitas terbaik dunia, sampai taraf tertentu kualitas demokrasi bergantung pada kematangan rakyat untuk saling menghargai.

Demokrasi hampir mustahil terwujud dalam masyarakat yang warganya tidak mengenal kompromi, masyarakat di mana perbedaan pendapat yang ada lebih disukai untuk diselesaikan melalui kekuatan dan kekerasan. Dan tidakkah itu berkait langsung dengan semakin banyaknya warga tercerahkan lewat pendidikan?

Bicaralah bahwa pendidikan tak harus dijalani secara formal. Pendidikan, mungkin bisa dilalui dengan menonton televisi di rumah, yang saat ini bahkan dimiliki tunawisma penghuni kolong jembatan sekalipun.

Tetapi mungkin kita lupa. Stasiun televisi saat ini dipenuhi pseudo hiburan yang entah ditujukan untuk siapa. Yang jelas bukan untuk kaum berpunya, karena pendidikan dan cita rasa tinggi akan menjauhkan mereka dari tayangan tidak bermutu seperti itu.

Sementara bagi kaum miskin, tayangan itu hanya mempertebal dan memperuncing kecemburuan, iri, dan dengki hati. Kaum miskin mana tidak akan geram manakala melihat betapa mudahnya menghambur uang dan foya-foya sebagaimana tercermin dalam tayangan khas televisi kita?

Dengan minimnya perhatian negara pada pendidikan warganya, jangan heran bila yang tumbuh adalah perilaku anarki. Jangan heran juga, betapa anarki itu juga hidup pada dunia pendidikan kita. Lihatlah ulah para mahasiswa saat mereka berdemonstrasi. Tanpa rasa bersalah, mereka menutup jalan-jalan protokol dan menelantarkan ribuan pekerja yang kesulitan mencari sarana transportasi.

Mereka bahkan melempari dan membakar mobil berplat merah, yang tentu saja dibeli dengan pajak rakyat banyak. Mereka melakukannya dengan tertawa. Anarki ternyata tumbuh pada dunia pendidikan yang juga sakit. Lalu masih bisakah kita berkata bahwa negara boleh berlepas tangan dari semua?


Read more...

Daftar Situs Perguruan Tinggi Negeri di Indonesia

http://www.its.ac.id/
http://www.ipb.ac.id/
http://www.isi.ac.id/
http://www.brawijaya.ac.id/
http://www.ui.edu/
http://www.ugm.ac.id/
http://www.unair.ac.id/
http://www.usu.ac.id/
http://www.undip.ac.id/
http://www.unila.ac.id/
http://www.malang.ac.id/
http://www.unsrat.ac.id/
http://www.unud.ac.id/
http://www.unnes.org/
http://www.untan.ac.id/
http://www.unhas.ac.id/
http://dikti.org/unima/
http://www.uny.ac.id/
http://www.unsoed.ac.id/
http://www.uns.ac.id/
http://www.unesa.ac.id/
http://www.unpad.ac.id/
http://www.unri.ac.id/
http://www.unej.ac.id/
http://www.unand.ac.id/
http://www.unmul.ac.id/
http://upi.ac.id/
http://www.unsri.ac.id/
http://www.unesa.ac.id/
http://www.um.ac.id/
http://www.unm.ac.id/
http://www.uncen.ac.id/
http://www.unj.ac.id/
http://www.unsyiah.ac.id/
http://www.polisriwijaya.ac.id/
http://www.polban.ac.id/
http://www.eepis-its.edu/
http://welcome.to/politeknik-ui
http://www.polmed.ac.id/
http://www.polman.com/
http://www.poltek-malang.ac.id/
http://www.poliupg.ac.id/
http://www.polimdo.ac.id/
http://www.polnep.ac.id/
http://www.polinpdg.ac.id/
http://www.pnb.ac.id/

Read more...

  © Yanto Cah Garas Ngasem by ngasem-bojonegoro.blogspot.com 2007

Back to TOP